Barat, Timur, dan Absennya Dialektika

Barat, Timur, dan Absennya Dialektika

James C. Davis membentangkan sejarah panjang manusia beserta paradoks-paradoksnya yang menohok dengan gaya bahasa ringan dan setengah mendongeng. Tapi The Human Stroy terlalu Barat Sentris.

Setelah dua puluh tahun tidak memegang pena, pada tahun 1632 Galileo menghasilkan buku Dialogo Sopra I due Massimi Sistemi del Mondo. Buku ini menghebohkan karena menghantam pandangan lama.

Sebelum buku tersebut terbit, orang-orang percaya (dan diteguhkan dalam Injil) bahwa bumi merupakan pusat semesta. Dialogo membalik itu dengan menulis bahwa bumi ternyata hanya titik kecil yang mengelilingi matahari. Akibatnya, Galileo dipanggil gereja untuk diadili atas karyanya yang dianggap menyesatkan.

Agama boleh saja membungkam Galileo. Namun, sejak Dialogo terbit, manusia sudah terlanjur resah dan mulai memikirkan eksistensinya di atas bumi. Segala masalah manusia sejak menempati bumi itulah yang kemudian diulas James C. Davis dalam bukunya The Human Story..

Manusia melahirkan demokrasi. Sistem ini lahir di Amerika Utara. Mereka orang-orang biasa yang datang dari Inggris untuk memperbaiki hidup di tanah air baru. Dari orang-orang biasa inilah demokrasi justru tercipta. Di negara yang kemudian dikenal sebagai Amerika Serikat, mereka hidup sederajat. Namun, demokrasi yang indah ini ternyata memiliki paradoksnya sendiri. Para penggagas demokrasi ternyata pemilik budak pula. Orang-orang kulit hitam yang diimpor dari Afrika dijadikan budak oleh para penganjur persamaan derajat ini. Kesetaraan yang mereka tawarkan ternyata hanya untuk sesama ras kulit putih, bukan untuk kulit berwarna lainnya.

Selain demokrasi, temuan lain manusia yang banyak mengubah hidupnya adalah industrialisasi. Usaha manusia untuk bisa “memproduksi lebih banyak supaya semua orang dapat memiliki lebih banyak,” demikian tulis Davis, telah melahirkan industrialisasi yang bermula di Inggris. Adalah John Kay yang menemukan alat pintal untuk memudahkan pekerjaan menenun kain. Tak disangka, dengan alat pintal tersebut, industri tekstil berkembang pesat. Setelah itu, satu per satu penemuan lain bermunculan seiring industrialisasi yang kian kokoh menancapkan kuku-kukunya dalam kehidupan manusia.

Di satu sisi, industrialisasi memang mampu membuat hidup manusia lebih makmur. Di sisi lain, ia juga menghasilkan kolonialisme. Mesin industrialisasi yang terus berputar memerlukan bahan baku dan tenaga kerja yang tidak sedikit. Semua itu harus dicari dan mesti dipenuhi. Maka, lahirlah ide penaklukan. Eropa sudah memiliki segalanya, mulai dari uang, kapal uap, senapan, hingga kerakusan. Era penjajahan dimulai. Amerika Latin, Afrika dan Asia menjadi koloni-koloni negara-negara Eropa. Selama berabad-abad, kekayaan negeri jajahan dikuras demi menggelembungkan pundi-pundi harta negara yang menjajah. “Puncak tertinggi dari kapitalisme adalah imperialisme,” begitu kata Lenin.

Setelah mampu memakmurkan hidupnya, sebuah paradoks muncul lagi. Dengan tangannya sendiri, manusia malah menghancurkan apa yang telah dibangunnya lewat perang. Perang menghancurkan segala yang ada di muka bumi, baik secara kasat mata maupun tidak kasat mata. Kehancuran yang tertampak antara lain penghancuran Hirosima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat dengan bom atom. Namun, kehancuran yang tidak kasat matalah yang menghasilkan dampak lebih parah. Ia menghancurkan kemanusiaan. Hingga kini, ketika manusia sudah memasuki era 4.0, perang ternyata tidak kunjung bisa dipungkasi.

Untuk mengatasi paradoks-paradoks tersebut, manusia terus mencari jalan keluar, salah satunya Karl Marx. Lewat Manifesto Komunis, Marx merumuskan kehidupan ideal yang diharapkan bisa membuat manusia keluar dari satu paradoks (lagi): masyarakat tanpa kelas. Lenin mewujudkan gagasan Marx lewat Revolusi Bolsyevik di Rusia dan Mao Zedong melahirkannya di Tiongkok. Namun, apa yang ingin dihindari itu ternyata terus berulang. Soviet justru melahirkan Gulag di zaman Stalin. Mao memunculkan Revolusi Kebudayaan yang menyengsarakan rakyat.

Karya James C. Davis berhasil membabarkan paradoks-paradoks yang dihadapi umat manusia. Di sisi lain, sebagai buah karya sejarawan Barat, buku ini sangat terkesan Baratsentris. Sejarah seolah-olah hanya digerakkan oleh bangsa Barat, sementara bangsa Timur hanya didudukkan sebagai penonton. Tak mengherankan, proses dialektika antara Barat-Timur dalam membentuk peradaban manusia tidak hadir dalam buku ini.

Membaca The Human Story seolah menonton film dokumenter berisi serangkaian adegan rekonstruksi olahan si penulis berdasarkan sekian banyak data dan bahan bacaan…

Buku ini tepat dijadikan sebagai referensi tambahan, mendampingi buku-buku sejarah yang lebih lengkap.

Terlepas dari itu, The Human Story bisa membantu kita untuk mengenal diri kita sendiri. Kita bisa bersikap pesimis terhadap perkembangan yang ada, tetapi api optimisme harus tetap dijaga. Sebagaimana ujaran Davis di ujung bukunya: “Dunia masih kejam, itu kita paham/Namun yang silam lebih muram/Sejauh ini, [kita] mendingan.” [ANINDITA S. THAYF, novelis dan esais]

Dimuat di Jawa Pos, 9 September 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *