Ngobrol Sore “Si Tukang Onar” dengan Eka Kurniawan dan Anton Kurnia

Ngobrol Sore “Si Tukang Onar” dengan Eka Kurniawan dan Anton Kurnia

Mayday! Mayday! Di Hari Buruh ini, mari gabung dalam obrolan sore tentang kumcer Si Tukang Onar, salah satu judul penting Maxim Gorky yang memotret dengan apik perkara-perkara yang seolah remeh tapi mampu membangkitkan kemanusiaan dan menyisakan gaung nyaring dalam pikiran, sembari menyesap minuman dan mengudap penganan bersama Eka Kurniawan dan Anton Kurnia di Kios Ojo Keos. 

Sila registrasi via Whatsapp/Telp. 0812-9456-3727

Barat, Timur, dan Absennya Dialektika

Barat, Timur, dan Absennya Dialektika

James C. Davis membentangkan sejarah panjang manusia beserta paradoks-paradoksnya yang menohok dengan gaya bahasa ringan dan setengah mendongeng. Tapi The Human Stroy terlalu Barat Sentris.

Setelah dua puluh tahun tidak memegang pena, pada tahun 1632 Galileo menghasilkan buku Dialogo Sopra I due Massimi Sistemi del Mondo. Buku ini menghebohkan karena menghantam pandangan lama.

Sebelum buku tersebut terbit, orang-orang percaya (dan diteguhkan dalam Injil) bahwa bumi merupakan pusat semesta. Dialogo membalik itu dengan menulis bahwa bumi ternyata hanya titik kecil yang mengelilingi matahari. Akibatnya, Galileo dipanggil gereja untuk diadili atas karyanya yang dianggap menyesatkan.

Agama boleh saja membungkam Galileo. Namun, sejak Dialogo terbit, manusia sudah terlanjur resah dan mulai memikirkan eksistensinya di atas bumi. Segala masalah manusia sejak menempati bumi itulah yang kemudian diulas James C. Davis dalam bukunya The Human Story..

Manusia melahirkan demokrasi. Sistem ini lahir di Amerika Utara. Mereka orang-orang biasa yang datang dari Inggris untuk memperbaiki hidup di tanah air baru. Dari orang-orang biasa inilah demokrasi justru tercipta. Di negara yang kemudian dikenal sebagai Amerika Serikat, mereka hidup sederajat. Namun, demokrasi yang indah ini ternyata memiliki paradoksnya sendiri. Para penggagas demokrasi ternyata pemilik budak pula. Orang-orang kulit hitam yang diimpor dari Afrika dijadikan budak oleh para penganjur persamaan derajat ini. Kesetaraan yang mereka tawarkan ternyata hanya untuk sesama ras kulit putih, bukan untuk kulit berwarna lainnya.

Selain demokrasi, temuan lain manusia yang banyak mengubah hidupnya adalah industrialisasi. Usaha manusia untuk bisa “memproduksi lebih banyak supaya semua orang dapat memiliki lebih banyak,” demikian tulis Davis, telah melahirkan industrialisasi yang bermula di Inggris. Adalah John Kay yang menemukan alat pintal untuk memudahkan pekerjaan menenun kain. Tak disangka, dengan alat pintal tersebut, industri tekstil berkembang pesat. Setelah itu, satu per satu penemuan lain bermunculan seiring industrialisasi yang kian kokoh menancapkan kuku-kukunya dalam kehidupan manusia.

Di satu sisi, industrialisasi memang mampu membuat hidup manusia lebih makmur. Di sisi lain, ia juga menghasilkan kolonialisme. Mesin industrialisasi yang terus berputar memerlukan bahan baku dan tenaga kerja yang tidak sedikit. Semua itu harus dicari dan mesti dipenuhi. Maka, lahirlah ide penaklukan. Eropa sudah memiliki segalanya, mulai dari uang, kapal uap, senapan, hingga kerakusan. Era penjajahan dimulai. Amerika Latin, Afrika dan Asia menjadi koloni-koloni negara-negara Eropa. Selama berabad-abad, kekayaan negeri jajahan dikuras demi menggelembungkan pundi-pundi harta negara yang menjajah. “Puncak tertinggi dari kapitalisme adalah imperialisme,” begitu kata Lenin.

Setelah mampu memakmurkan hidupnya, sebuah paradoks muncul lagi. Dengan tangannya sendiri, manusia malah menghancurkan apa yang telah dibangunnya lewat perang. Perang menghancurkan segala yang ada di muka bumi, baik secara kasat mata maupun tidak kasat mata. Kehancuran yang tertampak antara lain penghancuran Hirosima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat dengan bom atom. Namun, kehancuran yang tidak kasat matalah yang menghasilkan dampak lebih parah. Ia menghancurkan kemanusiaan. Hingga kini, ketika manusia sudah memasuki era 4.0, perang ternyata tidak kunjung bisa dipungkasi.

Untuk mengatasi paradoks-paradoks tersebut, manusia terus mencari jalan keluar, salah satunya Karl Marx. Lewat Manifesto Komunis, Marx merumuskan kehidupan ideal yang diharapkan bisa membuat manusia keluar dari satu paradoks (lagi): masyarakat tanpa kelas. Lenin mewujudkan gagasan Marx lewat Revolusi Bolsyevik di Rusia dan Mao Zedong melahirkannya di Tiongkok. Namun, apa yang ingin dihindari itu ternyata terus berulang. Soviet justru melahirkan Gulag di zaman Stalin. Mao memunculkan Revolusi Kebudayaan yang menyengsarakan rakyat.

Karya James C. Davis berhasil membabarkan paradoks-paradoks yang dihadapi umat manusia. Di sisi lain, sebagai buah karya sejarawan Barat, buku ini sangat terkesan Baratsentris. Sejarah seolah-olah hanya digerakkan oleh bangsa Barat, sementara bangsa Timur hanya didudukkan sebagai penonton. Tak mengherankan, proses dialektika antara Barat-Timur dalam membentuk peradaban manusia tidak hadir dalam buku ini.

Membaca The Human Story seolah menonton film dokumenter berisi serangkaian adegan rekonstruksi olahan si penulis berdasarkan sekian banyak data dan bahan bacaan…

Buku ini tepat dijadikan sebagai referensi tambahan, mendampingi buku-buku sejarah yang lebih lengkap.

Terlepas dari itu, The Human Story bisa membantu kita untuk mengenal diri kita sendiri. Kita bisa bersikap pesimis terhadap perkembangan yang ada, tetapi api optimisme harus tetap dijaga. Sebagaimana ujaran Davis di ujung bukunya: “Dunia masih kejam, itu kita paham/Namun yang silam lebih muram/Sejauh ini, [kita] mendingan.” [ANINDITA S. THAYF, novelis dan esais]

Dimuat di Jawa Pos, 9 September 2018

4 Alasan Kenapa Baca Buku Penting bagi Introvert

4 Alasan Kenapa Baca Buku Penting bagi Introvert

Kamu tidak suka keramaian? Merasa risih dikelilingi banyak orang? Lebih senang memendam apa yang kamu pikirkan? Memilih untuk membaca buku di kosan daripada ikut party bareng teman-teman?

Kalau iya, kemungkinan kamu seorang introvert. Apa sih introvert itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, introvert (atau dilokalkan menjadi “introver”) adalah orang yang suka memendam rasa dan pikiran sendiri dan tidak mengutarakannya kepada orang lain; bersifat tertutup. Orang-orang introver biasanya lebih suka menyendiri, tidak banyak bicara, memilih untuk mendengarkan dan menganalisis diam-diam.

Bagi kebanyakan introver, membaca buku merupakan sesuatu yang krusial. Kenapa sih membaca buku—terutama buku fiksi—sangat penting buat para introver? Mari kita coba kupas beberapa alasannya.

 

  1. Introver suka menjadi penonton

Suka mengobservasi adalah karakteristik tak terpisahkan dalam diri introver. Namun, para introver umumnya hanya senang mengamati segala sesuatu dari luar pagar. Kata kuncinya: tidak terlibat. Itulah kenapa berkelana di dunia lain seperti film dan buku, yang hanya perlu menyaksikan tanpa menguras banyak energi, adalah kegiatan yang sangat menyegarkan bagi para introver.

 

  1. Buku bisa menjadi sarana introver untuk mengetahui banyak hal di dunia

Bagi para introver, interaksi dengan orang lain kadang menjadi momok. Banyak introver yang lebih memilih untuk mencari jalan sendiri di Google Maps daripada harus bertanya pada orang tak dikenal ketika tersesat. Buku, terutama buku fiksi, secara harfiah menjadi jendela dunia bagi para introver untuk mengenali bermacam-macam kehidupan. Buku membantu introver memahami berbagai karakter manusia, juga mengetahui bagaimana kehidupan di belahan bumi lain yang mungkin tak akan pernah dialami sendiri oleh para introver.

 

  1. Membaca buku merupakan distraksi positif

Kehidupan dunia nyata selalu melelahkan. Masalah datang silih berganti, rutinitas kerap menjemukan, tagihan-tagihan harus dibayar. Menenggelamkan diri dalam cerita fiksi adalah pengalih perhatian yang berdampak besar bagi para introver. Membaca dua sejoli berinteraksi dengan manis akan memberikan perasaan bahagia dan meninggalkan senyum lebar di wajah. Mengikuti cerita aksi petualangan mendebarkan dapat memacu adrenalin yang bisa memompa semangat. Berusaha menebak siapa pembunuh dalam cerita misteri akan mempertajam daya analisis. Introver menikmati semua itu agar dapat melupakan masalah hidupnya sejenak. Berbagai perasaan positif yang diperoleh usai membaca buku adalah bekal energi yang bagus untuk bersiap menghadapi lagi kepahitan dunia nyata.

 

  1. Buku membantu introver menjadi pemberi saran terbaik

Introver terbiasa memikirkan segalanya secara mendalam. Hal itu, ditambah kemampuan analisis dan observasi yang hebat, membuat isi otak introver sangat kaya akan kebijaksanaan (meskipun jarang diungkapkan). Bagi introver, cerita di buku bukan sekadar cerita, melainkan akan ditransformasikan menjadi koleksi pengalaman untuk referensi di masa mendatang. Jadi jika ada teman yang curhat atau minta pendapat, introver dapat mengolah koleksi kisah di kepalanya, menemukan situasi serupa, lalu menyampaikan saran atau bahkan solusi yang relevan.

 

Nah, itu tadi alasan-alasan kenapa kebanyakan introver merupakan avid reader. Membaca buku dapat membantu introver memperluas wawasannya akan dunia tanpa harus melibatkan diri secara langsung. Apakah kamu, para introver, merasakan hal yang sama?     

 

[Lelita P]

 

Seni Hidup Berorientasi “Menjadi”

Seni Hidup Berorientasi “Menjadi”

 

MODERNITAS dengan semua perangkat pendukungnya cenderung mendorong manusia untuk hidup dengan menumpuk kepemilikan. Identitas dan kesadaran diri pun bahkan kemudian didefinisikan dalam kaitannya dengan sesuatu yang dimiliki.

Hidup dengan orientasi ’’memiliki’’ inilah yang oleh Erich Fromm disebut sebagai sumber masalah manusia modern. Keterasingan, keserakahan, dan krisis identitas adalah di antara dampak yang kemudian diderita oleh manusia modern. Continue reading →

Yang Kita Bicarakan Ketika Membicarakan Carver

Yang Kita Bicarakan Ketika Membicarakan Carver

Dimuat di Jawa Pos, 2 September 2018

Karya kanonis Raymond Carver yang kali pertama terbit pada tahun 1981 ini telah menginspirasi lahirnya karya sastra lain. Haruki Murakami menulis memoar dengan judul What I Talk About When I Talk About Running (2007). Film Birdman (2014), peraih piala Oscar untuk film terbaik juga meminjam cerita Carver ini sebagai bagian dari film. Cerita Carver juga mengilhami beberapa judul lagu atau drama televisi. Di Indonesia sendiri, dapat ditemukan jejak pengaruh Carver pada film What They Don’t Talk About When They Talk About Love yang diproduksi oleh Mouly Surya pada tahun 2013. Continue reading →